Friday, 30 September 2016

ETIKA UTILITARIANISME

PENDAHULUAN

Kehadiran suatu lembaga bisnis saat ini sangatlah beragam. Terlebih lagi akhir-akhir ini makin banyaknya dibangun bisnis baru khususnya di bidang kuliner sebagai contohnya adalah di sepanjang Jl. Margonda Raya. Kebanyakan, bisnis kuliner tersebut selalu ramai oleh pengunjung dikarenakan Jl. Margonda memang merupakan tempat strategis bagi yang ingin membangun bisnis. Dibalik ramai dan suksesnya bisnis-bisnis tersebut, tentunya mempunyai dampak positif maupun negatif dengan hadirnya bisnis tersebut. Siapa saja yang mendapat manfaat dari bisnis tersebut apabila dihubungkan dengan Teori Etika Utilitarianisme?


TEORI

Etika Utilitarianisme

Dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 -1832) adalah tentang bagaimana menilai baik buruknya suatu kebijaksanaan sosial politik, ekonomi dan legal secara moral. Pada mulanya, utilitarisme diajukan Bentham sebagai dasar etis untuk memperbaharui hukum pidana kerajaan Inggris. Dalam mengawali teori utilitarisme, Bentham menegaskan “Nature has placed mankind under the governance of two sovereign masters: plain and pleasures.” Artinya, secara kodrati manusia telah ditempatkan dibawah dua penguasa yang berdaulat, yakni: rasa sakit dan rasa nikmat. Dengan kata lain, Bentham mau menegaskan bahwa dalam keseharian hidup manusia selalu berada diantara kedua penguasa tersebut.

Kriteria dan Prinsip Etika Utilitarianisme
  1. Manfaat, yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat atau kegunaan tertentu.
  2. Manfaat terbesar, yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat terbesar (atau dalam situasi tertentu lebih besar) dibandingkan dengan kebijaksanaan atau tindakan alternatif lainnya.
  3. Manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Dengan kata lain, suatu kebijaksanaan atau tindakan yang baik dan tepat dari segi etis menurut etika utilitarianisme adalah kebijaksanaan atau tundakan yang membawa manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang atau sebaliknya membawa akibat merugikan yang sekecil mungkin bagi sesedikit mungkin orang.

Bertindaklah sedemikian rupa sehingga tindakanmu itu mendatangkan keuntungan sebesar mungkin bagi sebanyak mungkin orang.

Nilai Positif Etika Utilitarianisme
  1. Rasionalitas. Maksudnya, prinsip moral yang diajukan oleh etika utilitarianisme ini tidak didasarkan pada aturan aturan kaku yang mungkin tidak kita pahami dan yang tidak bisa kita persoalkan keabsahannya.
  2. Utilitarianisme sangat menghargai kebebasan setiap pelaku moral. Setiap orang dibiarkan bebas untuk mengambil keputusan dan bertindak dengan hanya memberinya ketiga kriteria objektif dan rasional tadi.
  3. Universalitas. Berbeda dengan etika teknologi lainnya yang terutama menekan manfaat bagi diri sendiri atau kelompok sendiri, etika utilitarianisme justru mengutamakan manfaat atau akibat baik dari suatu tindakan bagi banyak orang.
Utilitarianisme Sebagai Proses dan Sebagai Standar Penilaian

Secara umum, etika utilitarianisme dapat dipakai dalam dua wujud yang berbeda.
  1. Etika utilitarianisme digunakan sebagai proses untuk mengambil keputusan, kebijaksanaan atau untuk bertindak. Dengan kata lain, etika utilitarianisme dipakai sebagai prosedur untuk mengambil keputusan. Ia menjadi sebuah metode untuk bisa mengambil keputusan yang tepat tentang tindakan atau kebijaksanaan yang akan dilakukan.
  2. Etika utilitarianisme sebagai standar penilaian bagi tindakan atau kebijaksanaan yang telah dilakukan. Dalam hal ini, ketiga kriteria diatas lalu benar-benar dipakai sebagai kriteria untuk menilai apakah suatu tindakan atau kebijaksanaan yang telah dilakukan memang baik atau tidak.
Analisis Keuntungan dan Kerugian

Dalam Etika Utilitarianisme, manfaat dan kerugian selalu dikaitkan dengan semua orang yang terkait, sehingga analisis keuntungan dan kerugian tidak lagi semata-mata tertuju langsung pada keuntungan bagi perusahaan.
  1. Keuntungan dan kerugian, cost and benefits, yang dianalisis tidak dipusatkan pada keuntungan dan kerugian perusahaan, kendati benar bahwa ini sasaran akhir.
  2. Analisis keuntungan dan kerugian tidak ditempatkan dalam kerangka uang.
  3. Analisis keuntungan dan kerugian untuk jangka panjang.
Langkah konkret yang perlu diambil dalam membuat kebijaksanaan bisnis, berkaitan dengan analisis keuntungan dan kerugian
  1. Mengumpulkan dan mempertimbangkan alternatif kebijaksanaan dan kegiatan bisnis sebanyak-banyaknya.
  2. Seluruh alternatif pilihan dalam analisis keuntungan dan kerugian, dinilai berdasarkan keuntungan yg menyangkut aspek-aspek moral.
  3. Analisis Neraca keuntungan dan kerugian perlu dipertimbangkan dalam kerangka jangka panjang.
Kelemahan Etika Utilitarianisme
  1. Manfaat merupakan konsep yang begitu luas sehingga dalam kenyataan praktis akan menimbulkan kesulitan yang tidak sedikit.
  2. Etika utilitarianisme tidak pernah menganggap serius nilai suatu tindakan pada dirinya sendiri dan hanya memperhatikan nilai suatu tindakan sejauh berkaitan dengan akibatnya.
  3. Etika utilitarianisme tidak pernah menganggap serius kemauan baik seseorang.
  4. Variabel yang dinilai tidak semuanya dapat dikualifikasi.
  5. Seandainya ketiga kriteria dari etika utilitarisme saling bertentangan, maka akan ada kesulitan dalam menentukan proiritas di antara ketiganya.
  6. Etika utilitarisme membenarkan hak kelompok minoritas tertentu dikorbankan demi kepentingan mayoritas.


ANALISIS

Saat ini di Jl. Margonda Raya, Depok, sudah banyak berdiri tempat-tempat makan atau cafe-cafe yang biasanya dijadikan tempat hang out anak-anak muda bersama teman-temannya. Mulai dari tempat untuk makan berat, dessert, jajanan maupun hanya untuk sekadar ngopi-ngopi, semua ada di Jl. Margonda. Margonda merupakan tempat yang sangat strategis untuk membuka bisnis khususnya di bidang kuliner, karena Margonda merupakan pusatnya kota Depok yang dimana terdapat mall-mall besar, universitas-universitas besar, hotel, apartemen dan lain-lain. Tidak heran banyak pengusaha bisnis (mulai dari menengah kebawah hingga menengah keatas) membuka usaha bisnis kuliner di pusat kota ini. Oleh karena itu, saya ingin menganalisis apa saja dampak positif dan negatif sebuah lembaga bisnis (kuliner) yang berlokasi di Jl. Margonda Raya (dalam hal ini saya mengambil contoh kasus OTW Food Street) apabila dihubungkan dengan teori utilitariarisme dan siapa saja yang mendapat manfaat dengan kehadiran lembaga bisnis ini.

OTW Food Street merupakan suatu tempat makan yang menjual berbagai makanan dan minuman dimulai dari makanan berat, makanan ringan, dessert, kopi dan yang paling terkenal disini adalah menu martabaknya yang mempunyai 8 topping. Tempat ini tidak pernah sepi pengunjung yang kebanyakan adalah anak muda.

Dengan hadirnya OTW Food Street ini, tentunya memiliki dampak positif dan dampak negatif bagi sekitarnya. Yang pertama akan saya bahas adalah dampak positifnya. Menurut saya, adanya OTW Food Street dapat membantu mengurangi pengangguran dengan memberikan pekerjaan bagi orang-orang disekitarnya. Selain itu, dapat membuka peluang usaha bagi pengusaha untuk lebih memperkenalkan usahanya pada masyarakat dan dengan selalu ramainya OTW Food Street ini, tentunya dapat menghasilkan keuntungan finansial yang cukup besar pagi pengusaha. Lalu dampak positif lainnya adalah, dengan selalu ramainya usaha ini, pengusaha dapat membuka cabang baru di tempat lain atau kota lain sehingga masyarakat di kota lain tidak perlu susah-susah apabila ingin ke OTW Food Street.

Selain dampak positif, kehadiran suatu tempat juga mempunyai beberapa dampak negatifnya. Dalam hal ini, dengan adanya OTW Food Street, menurunkan penjualan penjual martabak yang sudah jauh lebih dulu berjualan martabak disekitar situ. Masyarakat khususnya para anak muda yang suka martabak dan suka hang out, pasti akan memilih membeli martabak di OTW Food Street. Selanjutnya, dengan ramainya OTW Food Street, kadang membuat kemacetan apalagi di saat jam pulang kantor dikarenakan terbatasnya lahan parkir yang dimiliki sehingga pengunjung yang membawa mobil, terpaksa harus memarkirkan mobilnya di pinggir jalan raya. Akan lebih baik lagi kalau pihak pengelola dapat mencarikan lahan parkir yang cukup luas bagi pengunjung khususnya yang pengunjung membawa mobil.

Dengan hadirnya lembaga bisnis ini, cukup banyak masyarakat yang mendapat manfaatnya seperti anak muda yang suka hang out bersama teman-temannya, tidak perlu pergi jauh-jauh karena sudah ada tempat hang-out yang dekat dan mudah dijangkau. Lalu bagi masyarakat sekitar, apabila ada acara misalnya seperti 17 Agustusan, OTW Food Street dapat menyumbangkan dana untuk membantu melangsungkan kegiatan tersebut. Saya harapkan, dengan adanya bisnis ini, dapat membuat semangat bagi pebisnis lain yang ingin membuka bisnis di sekitaran Jl. Margonda ini dengan tidak lupa untuk mempertimbangkan dampak-dampak yang akan ditimbulkan



REFERENSI

Dr. Keraf, A.Sonny. 2000. Etika Bisnis, Tuntunan dan Relevansinya. Yogyakarta: Kanisius.

L.Sinuor, Yosephus. 2010. Etika Bisnis: Pendekatan Filsafat Moral Terhadap Perilaku Pebisnis Kontemporer. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

No comments:

Post a Comment