Saturday, 12 November 2016

Tugas 5

PENDAHULUAN

“Lingkungan hidup” adalah kata kunci yang membuat manusia berkepentingan dengannya. Manusia sebagai makhluk sosial dimana mereka hidup pasti akan membutuhkan interaksi dengan manusia lain untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.tidak hanya itu, guana memenuhi kebutuhn hidupnya yang lain, manusia pasti banyak bergantung pada ketersediaan alam yang memadai.


TEORI

Alam dan bumi beserta isinya memang dipersiapkan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup manusia seperti makan, minum, pakaian, perumahan dan lain sebagainya. Oleh karena keterbatasan persediaan, sementara kebutuhan semakin membengkak, dengan kemampuan daya pikirnya, manusia mampu mengolah alam dalam aktivitas industri. Selanjutnya, untuk mentransferkan kebutuhan antar mereka, dilakukan dengan berbagai aktivitas bisnis, sehingga pada akhirnya akan tercukupi segala kebutuhan hidup sehari-hari.

Di Indonesia, etika lingkungan sebenarnya bukan barang baru. Nenek moyang kita telah melakukan “kampanye” lingkungan melalui berbagai media seperti legenda, mitos dan cerita rakyat. Jejak ini masih bisa dikenali dengan kental melalui kearifan tradisional yang masih dipegang kuat oleh banyak suku, misalnya suku Badui, Dayak, Nias dan Tengger. Semestinya etika lingkungan yang penuh warna lokal dapat dikembangkan di Indonesia.

Seirama dengan perkembangan zaman yang sedemikian cepat, semua itu kini sudah berubah dengan cepat, karena Indonesia bukanlah sebuah negara yang tertutup rapat di planet bumi. Indonesia adalah bagian dari globalisasi yang menghilangkan sekat-sekat batas antarnegara dan bangsa yang saling berpengaruh antara yang satu dengan yang lain.

Pencemaran lingkungan atau perubahan ekosistem tidak semata karena faktor lokal, tapi juga faktor global yang tidak kecil pengaruhnya. Oleh sebab itu, masalah lingkungan sekarang tidak lagi masalah lokal, tetapi merupakan masalah bersama (global) antarbangsa (transnasional) di seluruh dunia.
Masalah polusi yang ditimbulkan oleh kegiatan proses produksi karena akibat asap, ampas atau zat kimia yang dihasilkan oleh pabrik dibuang ke alam terbuka, yang semua kerusakan ini tidak terlepas dari kegiatan tangan-tangan manusia juga.

Betapa berbahayanya polusi ini bagi kesehatan makhluk hidup, terutama manusia, sudah sangat menuntut kepedulian pemimpin dunia. Ini terbukti dengan pernah diadakannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Brazillia, Juni 1992, yang dihadiri oleh para pemimpin dunia guna memicarakan masalah polusi yang mengancam kehidupan umat manusia berupa polusi udara, pencemaran udara di kota besar yang disebabkan oleh asap knalpot mobil dan pabrik. Polusi air disebabkan oleh buangan pabrik yang menyebabkan air berubah warna dan berbau tidak enak dengan kandungan racun yang mematikan ikan dan sebangsanya. Jika keadaan ini berlanjut terus, alam dengan segala ekosistemnya akan hancur sama sekali.

Tanpa didukung supremasi hukum yang jelas dan kesadaran etis dari semua kalangan, niscaya green economics (ekonomi hijau) yang sekarang mulai mendapat perhatian tidak akan pernah menjadi sebuah kenyataan yang bisa dinikmati bersama. Program penghijauan dengan menanam satu milyar pohon yang diprakarsai kementrian kehutanan akhir-akhir ini tentu saja merupakan salah satu daya dukung untuk menciptakan terwujudnya green economics di Indonesia. Demikian pula apa yang dilakukan oleh beberapa perusahaan sebagai salah satu program corporate social responsibility (CSR) kiranya patut di apresiasi. Bagaimanapun juga perlu disadari bahwa kerusakan ekosistem di berbagai belahan dunia ini dapat diprediksi karena perilaku pelaku bisnis yang kurang peduli pada masalah perawatan ekosistem. Terutama sekali dari kalangan perusahaan besar yang sering kali berhadapan dengan masalah kebutuhan bahan baku, lokasi tempat operasional perusahaan, pembuangan sampah (residu), hasil produksi dan lain sebagainya.


ANALISIS

Semakin banyaknya dunia bisnis, semakin banyak pula dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat munculnya bisnis-bisnis tersebut. Salah satu contohnya adalah pencemaran air. Di lingkungan sekitar tempat tinggal saya, terdapat sebuah usaha bisnis makanan yaitu restoran Daeng Naba. Hadirnya bisnis tersebut memnyebabkan polusi air yang membuat saluran air disekitar mampet dan bau. Ini terjadi dikarenakan pihak restoran kurang memperhatikan akibat atau dampak yang  dihasilkan, seperti pembuangan air yang tidak disaring dahulu sehingga terjadi pencemaran air. Ketika hujan juga akibat tersumbatnya saluran air, mengakibatkan banjir namun tidak terlalu parah.

Tidak hanya pencemaran air saja dampak dari adanya restoran tersebut, tetapi juga pencemaran udara. Setiap pagi, setiap saya melewati restoran tersebut, selalu ada saja asap yang dikeluarkan dari exhaust fan yang berasal dari dapurnya. Padahal saat itu masih pagi dan itu cukup mengganggu saya sebagai orang yang setiap hari melewati restoran tersebut.

Selain restoran Daeng Naba, OTW Foodstreet juga melakukan pencemaran lingkungan. Hampir sama dengan Daeng Naba, pencemaran lingkungan yang dilakukan OTW adalah pencemaran udara. Tetapi bedanya adalah kalau OTW Foodstreet pencemarannya melalui sampah atau air yang dihasilkan sampah yang menyebabkan bau jika ada orang yang melintasinya. Letak kumpulan sampah yang berada di dekat trotoar pejalan kaki mambuat bau yang tidak enak bila dilewati orang-orang.


REFERENSI


Djakfar, Muhammad. 2012. Etika Bisnis:Menangkap Spirit Ajaran Langit dan Pesan Moral Ajaran Bumi. Depok: Penebar Plus.

No comments:

Post a Comment